About Me

Pengunjung Injak Patilasan Karangkamulyan, Ini Kata Raja Galuh Ciamis




Gilang Taufiq Kusumawardhana, pengunjung Situs Karangkamulyan yang menginjak Batu Patilasan Lambang Peribadatan. Foto: Istimewa

Berita Ciamis, H.R. Rasich Hanif Radinal salah satu keturunan Raja Galuh angkat bicara terkait pengunjung yang injak patilasan peribadatan di Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

“Mendengar berita, dan melihat suatu yang baru saja terjadi di Situs Batu Patilasan, Karangkamulyan tentu kita masyarakat Tatar Galuh semua merasa tersinggung. Serta dilecehkan, sakit hati, marah, dan prihatin atas kejadian tersebut,” katanya, Senin (5/10/2020).

Namun dalam menyikapinya, pria yang biasa dipanggil Raden Hanif ini meminta masyarakat Tatar Galuh Ciamis untuk terlebih dahulu menelaah dan berpikir jernih. Selain itu juga berbesar hati dan bijaksana dalam merespon peristiwa tersebut.

“Setelah mengecek dan menelaah kejadiannya. Terlebih melihat permintaan maaf dari A Taufiq Kusuma Warhdana (pelaku penginjakan patilasan di Karangkamulyan). Kami cenderung prihatin sampai bisa terjadinya hal itu,” katanya.

Baca juga: Heboh, Wisatawan Berfoto di Atas Batu Patilasan di Karangkamulyan Ciamis

Menurutnya, sebagai seorang anak muda yang sedang belajar dan mencoba menggali sejarah, pelaku penginjak patilasan di Karangkamulyan sampai tidak memahami adat dan tradisi.

Selain itu, lanjut Hanif, yang lebih memprihatinkan bagaimana generasi muda saat ini yang tidak mempelajari sejarah.

“Mari kita jadikan kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, terlebih untuk dapat memahami hikmah di balik kejadian ini. Mari bersama kita lakukan introspeksi sehingga kejadian seperti hal ini tidak terulang lagi di situs sejarah manapun,” jelasnya.

Pengunjung Injak Patilasan Karangkamulyan, Rd Hanif Minta Warga Ciamis Berbesar Hati

Hanif menyebut, kondisi situs yang tidak tertutup pagar, tidak adanya papan aturan atau tata tertib, dan pemandu yang tidak mendapatkan pembinaan yang cukup, hal tersebut harus jadi perhatian semua pihak.

“Permintaan maaf telah disampaikan, mari kita berbesar hati untuk dapat memaafkan sehingga menjadi pelajaran yang baik di masa depan,” ungkapnya.

Hanif juga mengajak semua pihak untuk menjaga dan membangun rasa peduli terhadap sejarah, adat, istiadat dan leluhur.

Hal itu, menurut Hanif, merupakan tanggung jawab bersama. Terutama untuk mendidik dengan baik generasi muda dengan cara yang baik seperti memberi pemahaman, mengayomi dan merangkul mereka.



“Menyikapinya bukan dengan hukuman apalagi kekerasan, karena mereka-merekalah penerus bangsa kita. Saya juga sudah memohon kepada Para Sesepuh kita di Karangkamulyan. Kiranya dapat diadakan do’a bersama di Situs Batu Patilasan, Karangkamulyan. Kita juga memikirkan serta melakukan hal-hal yang bisa dilakukan sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi,” tandasnya.

Sumber: DISINI

Posting Komentar

0 Komentar