About Me

Jadilah Guru yang Selalu Khudur, Khudur Lahir dan Khudur Batin.

Guru adalah seniman, yang mampu memberikan seni dalam mengajar (Irfa Razak)



Dalam sebuah kesempatan, pernah mendengar peserta didik mengeluh gurunya marah-marah terus, gurunya nyuruh baca terus, ngasih tugas terus, gurunya main HP terus dan yang paling parah gurunya yang ketiduran ketika saat mengajar atau tidak hadir sama sekali ke kelas baik kelas daring ataupun luring. Well ini bad habits yang sering dijumpai dari guru-guru kita, tidak menggeneralisir namun secara perspektif peserta didik ini yang sering menjadi sorotan bagi mereka.


none

Tahukah kawan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya agar memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. ( UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1 )

Yes subjek dari pendidikan atau pembelajaran adalah peserta didik, lantas guru sebagai apa?  Benar sekali guru itu sebagai pengarah, pembimbing, penuntun dan pengamal ilmu bagi peserta didiknya. Jika ada stigmna guru hanya menunaikan kewajibannya sebagai pengajar dengan istilah cupar kawajaban tanpa menanamkan nilai-nilai yang tadi disebutkan, maka dia belum sampai kepada istilah cupar kawajibana.

Ketika seorang gur harus menjadi pengarah, pembimbing, penuntun dan pengamal ilmu bagi peserta didiknya maka jelas guru tersebut harus yang memiliki hati. Ya hati, hati disini ialah salah satu elemen penting dalam proses belajar mengajar, dengan hati  yang bersih maka akan memberi dampak positif pada subjek yang diajar.

Hati adalah gumpalan darah yang bisa menentukan baik dan buruknya sikap manusia. Apabila hati seseorang itu baik, maka ia dapat berperilaku baik juga. Dalam proses belajar mengajar di sekolah hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu membuka hati selebar-lebarnya agar proses mengajar bisa berjalan dengan lancar.

Kenapa seperti itu? Karena dalam proses belajar mengajar hati seorang guru harus khudur, khudur disini memiliki arti hadir, maka guru harus bias menghadirkan hatinya dalam mengajar, menghadirkan hati disini bermakna tanpa pamrih, tulus, rela, ikhlas dan ridha  karena kesemuanya akan dirasakan oleh peserta didik, dan pembelajaran akan berlangsung dengan keberkahan dari sikap guru yang seperti itu.

Bukan hanya itu apabila seorang guru itu mampu bersikap sepenuh hati maka, apa yang akan diajarkan akan mudah terserap dengan baik dalam pikiran peserta didiknya. Guru yang tidak mengajar sepenuh hati sama saja guru itu tidak ikhlas dalam menyalurkan ilmu yang dimilikinya. 

Karena jika guru mampu ikhlas sudah pasti guru tersebut mampu mengajar dengan sepenuh hati. Bukankah mengajar dengan sepenuh hati itu lebih baik daripada setengah hati?

Benar sekali, sejatinya mengajar bukan hanya sebatas transformasi ilmu dari guru kepada peserta didik, akan tetapi mengajar merupakan arahan, bimbingan, tuntunan dari seorang guru kepeda peserta didik agar mereka memahami cara mencari ilmu, cara menggunakan ilmu, cara menambah ilmu, pengaplikasian ilmu, serta terinspirasi dari gurunya.

Dari beberapa hal yang disampaikan tadi ada hal yang terpenting di atas ilmu adalah etika atau akhlak, akhlak peserta didik akan baik dan sesuai tujuan dari pendidikan jika seorang guru mampu mengajar dengan mengkhudurkan hati dan tidak lepas dari koridor-koridor peraturan etika profesi guru yang ada.

Seorang ulama yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata, “Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.

Memang demikian contoh dari para ulama dan guru sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab dan akhlak. Jangan sampai justru pembelajaran rusak karena perilaku guru itu sendiri yang kurang beretika dalam akhlaknya. Ulama dan guru-guru dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan melebihi perhatian terhadap ilmu.

Jadi,  hakekat mengajar disini adalah bukan sekedar mentransfer ilmu, tetapi juga mendoakan peserta didik, memperlakukan peserta didik sebagai raja yang harus dilayani segala kebutuhanya, karena mereka adalah tonggak- tonggak penerus generasi bangsa yang harus di godok dengan ilmu yang matang, akhlak dan etika yang benar.

“Jadilah guru yang baik, atau tidak samasekali”

Mari kita bentuk peserta didik kita menjadi insan paripurna dengan mencurahkan semua kompetensi yang kita miliki, agar kompensi peserta didik juga meningkat. Mari kita mengajar dengan hati, dengan etika dan dengan akhlak agar kita mampu menjadi inspirasi bagi peserta didik kita. Semoga. (irfa razak)



Posting Komentar

0 Komentar